kencananusantara.com/, JOMBANG – Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika pencarian figur pemimpin tertinggi organisasi terus menjadi perhatian warga Nahdliyin. Sejumlah nama ulama senior mulai mengemuka dalam bursa kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), di antaranya Kiai Miftachul Akhyar dan Kiai Said Aqil Siradj.
Keduanya dinilai memiliki pengalaman panjang, kapasitas keilmuan, serta rekam jejak yang kuat dalam perjalanan organisasi Nahdlatul Ulama. Kehadiran dua tokoh tersebut dalam bursa kepemimpinan mencerminkan harapan agar PBNU ke depan tetap mampu menjaga tradisi keulamaan sekaligus menjawab tantangan sosial, kebangsaan, dan perkembangan zaman.
Kiai Miftachul Akhyar merupakan salah satu ulama senior NU yang pernah dipercaya mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU. Beliau dikenal memiliki pengalaman panjang dalam struktur kepengurusan NU serta aktif dalam membangun penguatan nilai-nilai keislaman Ahlussunnah wal Jamaah.
Sementara itu, Kiai Said Aqil Siradj memiliki rekam jejak sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode. Tokoh asal Cirebon tersebut dikenal aktif dalam pengembangan pemikiran Islam moderat, penguatan pendidikan pesantren, serta memperluas peran NU dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Muktamar ke-35 NU menjadi forum tertinggi organisasi yang akan menentukan arah kepemimpinan PBNU periode mendatang. Selain membahas program strategis organisasi, forum tersebut juga menjadi momentum penting untuk memilih sosok yang mampu menjaga kesinambungan perjuangan NU di tengah perubahan global.
Dalam proses pemilihan kepemimpinan, mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) menjadi salah satu bagian penting dalam tradisi musyawarah NU. Mekanisme tersebut menegaskan peran para ulama senior dalam menentukan arah kepemimpinan organisasi berdasarkan pertimbangan keilmuan, keteladanan, dan kemaslahatan umat.
Munculnya nama Kiai Miftachul Akhyar dan Kiai Said Aqil Siradj menunjukkan kuatnya perhatian terhadap figur berpengalaman dalam kepemimpinan PBNU. Namun, keputusan akhir tetap berada dalam forum resmi Muktamar ke-35 NU melalui proses musyawarah sesuai aturan organisasi.
Muktamar ke-35 NU diharapkan mampu melahirkan kepemimpinan yang menjaga marwah organisasi, memperkuat khidmah keumatan, serta meningkatkan kontribusi Nahdlatul Ulama bagi masyarakat, bangsa, dan negara.












