kencananusantara.com/, PALEMBANG – Kualitas udara di Kota Palembang, Sumatera Selatan, semakin memburuk akibat kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 tercatat mencapai 903,6 mikrogram per meter kubik pada Senin (5/10) pagi.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyampaikan bahwa arah angin menjadi salah satu faktor yang menyebabkan asap dari wilayah terdampak karhutla bergerak menuju Palembang. Salah satu wilayah dengan aktivitas karhutla yang cukup besar berada di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Berdasarkan catatan BMKG, terdapat 1.726 titik panas (hotspot) yang terdeteksi di wilayah tersebut. Asap yang terbawa angin menuju Palembang menyebabkan kualitas udara di sejumlah wilayah kota berada pada level yang mengkhawatirkan.
Dampak kabut asap turut dirasakan pada sektor transportasi udara. Berdasarkan data pengelola Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, sebanyak 16 penerbangan domestik dan dua penerbangan internasional mengalami keterlambatan pada Senin (5/10). Kondisi tersebut dipengaruhi oleh jarak pandang yang menurun hingga sekitar 200 meter.
Selain mengganggu aktivitas penerbangan, buruknya kualitas udara juga menjadi perhatian dari sisi kesehatan masyarakat. Jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di Kota Palembang tercatat mencapai 17.434 kasus pada September 2026.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpengaruh langsung terhadap aktivitas masyarakat, transportasi, serta kesehatan publik.
Pengendalian dan pencegahan karhutla menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak yang lebih luas. Penanganan yang terintegrasi, pemantauan titik panas secara berkelanjutan, serta peningkatan kesadaran masyarakat diperlukan untuk menjaga kualitas lingkungan dan melindungi masyarakat dari paparan asap.












