BMKG Pastikan Pemantauan 24 Jam Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, Abu Vulkanik Jadi Perhatian Utama

Kencananusantara.com, JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan pemantauan intensif terhadap aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) terus dilakukan secara berkelanjutan. Pemantauan mencakup kondisi atmosfer, penyebaran abu vulkanik, keselamatan penerbangan, serta dinamika perairan di sekitar Selat Sunda.

Melalui pemanfaatan berbagai instrumen observasi, termasuk analisis citra satelit Himawari-9, BMKG mendeteksi adanya sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau yang bergerak mengikuti pola angin di lapisan atmosfer. Sebaran tersebut terpantau memengaruhi sejumlah wilayah, termasuk Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga beberapa wilayah lainnya.

Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, menyampaikan bahwa pemantauan dilakukan secara intensif untuk memastikan informasi meteorologi yang akurat dan mendukung langkah mitigasi terhadap potensi dampak erupsi.

“BMKG terus melakukan pemantauan perkembangan sebaran abu vulkanik melalui sistem observasi atmosfer dan satelit. Informasi tersebut menjadi dasar dalam mendukung keselamatan penerbangan serta memberikan peringatan dini kepada masyarakat dan pemangku kepentingan terkait,” ujar Andri.

Dari sisi keselamatan penerbangan, BMKG melalui Stasiun Meteorologi Soekarno-Hatta telah menerbitkan informasi peringatan cuaca signifikan atau Significant Meteorological Information (SIGMET) terkait potensi bahaya abu vulkanik (Volcanic Ash) di wilayah udara terdampak.

Keberadaan abu vulkanik di atmosfer menjadi perhatian karena dapat mengganggu jarak pandang dan berpotensi membahayakan operasional pesawat apabila masuk ke dalam sistem mesin penerbangan. Oleh karena itu, BMKG terus berkoordinasi dengan AirNav Indonesia, otoritas bandara, maskapai penerbangan, serta instansi terkait untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis informasi keselamatan.

Selain sektor udara, BMKG juga melakukan pemantauan terhadap kondisi perairan Selat Sunda melalui sistem Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS). Berdasarkan hasil pengamatan multi-sensor, hingga saat pemantauan tidak ditemukan indikasi anomali muka laut yang menunjukkan potensi tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.

BMKG juga terus mengamati berbagai fenomena atmosfer yang menyertai aktivitas vulkanik, termasuk perkembangan awan vulkanik, kondisi atmosfer, serta aktivitas petir vulkanik yang dapat muncul selama proses erupsi berlangsung.

Kepala BMKG menegaskan bahwa sistem pemantauan berbasis teknologi dan kolaborasi lintas lembaga terus diperkuat guna memberikan informasi cepat, tepat, dan terpercaya kepada masyarakat.

“BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, serta mengikuti informasi resmi dari pemerintah. Hindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak menimbulkan kepanikan,” tegasnya.

BMKG bersama instansi terkait akan terus melakukan pemantauan perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan menyampaikan pembaruan informasi apabila terdapat perubahan kondisi yang signifikan.

Biro Komunikasi Publik BMKG

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *