Kencananusantara.com, LAHAT – Gagasan industrialisasi pedesaan yang dikembangkan Bursah Zarnubi di Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, mendapat perhatian di tingkat nasional. Konsep tersebut bahkan didorong agar dapat menjadi model percontohan pembangunan ekonomi desa yang bisa diterapkan di daerah lain.
Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sebelumnya menyampaikan dukungan terhadap gagasan industrialisasi pedesaan di Lahat. Menurutnya, konsep tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai salah satu model pembangunan yang dapat direplikasi secara nasional.
Gagasan Bursah berangkat dari kebutuhan untuk mengubah wajah ekonomi pedesaan. Desa tidak cukup hanya menjadi penghasil bahan mentah, tetapi harus mampu berkembang menjadi pusat produksi dan pengolahan yang menghasilkan nilai tambah bagi masyarakat.
Penguatan sektor pertanian menjadi salah satu fondasi utama. Produksi pertanian didorong untuk terintegrasi dengan teknologi, mekanisasi, pengolahan hasil, hingga pemasaran.
Konsep integrated farming juga menjadi bagian dari pendekatan tersebut. Pemanfaatan drone, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), serta mesin pertanian modern diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi.
Bursah juga menekankan pentingnya menciptakan lapangan kerja di desa. Industrialisasi pedesaan tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memastikan masyarakat memperoleh manfaat ekonomi dari seluruh proses produksi hingga pengolahan.
Potensi pertanian dan perkebunan Lahat menjadi modal penting untuk menjalankan konsep tersebut. Komoditas lokal dapat dikembangkan menjadi produk olahan sehingga nilai tambahnya dapat lebih banyak dinikmati masyarakat dan daerah.
Dukungan Dasco memperlihatkan bahwa gagasan tersebut memiliki relevansi dengan kebutuhan pembangunan nasional, khususnya dalam memperkuat ekonomi berbasis desa.
Jika diterapkan secara konsisten, Lahat dapat menjadi contoh bahwa industrialisasi tidak harus selalu terkonsentrasi di kota. Desa pun dapat menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru dengan dukungan teknologi, sumber daya manusia, industri pengolahan, dan akses pasar.
Konsep ini sekaligus membuka peluang untuk mengurangi kesenjangan ekonomi antara desa dan kota. Dengan semakin banyaknya aktivitas ekonomi di desa, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk membangun masa depan tanpa harus meninggalkan daerah asal.
Karena itu, industrialisasi pedesaan Lahat tidak sekadar berbicara mengenai modernisasi pertanian. Lebih jauh, gagasan tersebut menyasar pembangunan rantai ekonomi desa dari hulu hingga hilir—mulai produksi, pengolahan, distribusi hingga pemasaran.
Dengan sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat, gagasan tersebut diharapkan dapat diwujudkan secara berkelanjutan.
Lahat kini memiliki peluang untuk membuktikan bahwa pembangunan ekonomi nasional tidak selalu harus dimulai dari kota. Dari desa, pertumbuhan ekonomi baru Indonesia dapat dibangun.












