Kencananusantara.com, JAKARTA – Low Tuck Kwong tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia dengan estimasi kekayaan mencapai US$19 miliar atau sekitar Rp337 triliun. Angka tersebut berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires yang ditampilkan pada 18 September 2026, dengan kurs Rp17.741 per dolar AS.
Low Tuck Kwong merupakan pendiri Bayan Resources, perusahaan tambang batu bara yang tercatat di Bursa Efek Indonesia dengan kode saham BYAN. Forbes mencatat Bayan Resources sebagai sumber utama kekayaan Low Tuck Kwong.
Dalam daftar tersebut, Low Tuck Kwong berada di atas sejumlah nama pengusaha besar Indonesia. Prajogo Pangestu tercatat dengan kekayaan sekitar US$16,3 miliar atau Rp289 triliun, disusul R. Budi Hartono sebesar US$15,8 miliar atau Rp280 triliun.
Selanjutnya terdapat Anthoni Salim dengan kekayaan sekitar US$11 miliar atau Rp195 triliun, Tahir & Family US$9,4 miliar atau Rp166 triliun, Sri Prakash Lohia US$8,8 miliar atau Rp156 triliun, Otto Toto Sugiri US$8,3 miliar atau Rp147 triliun, Marina Budiman US$6 miliar atau Rp106 triliun, Lim Hariyanto US$5,1 miliar atau sekitar Rp90,47 triliun, serta Theodore Rachmat US$4,6 miliar atau sekitar Rp81,60 triliun.
Kekayaan Low Tuck Kwong juga menjadi perhatian seiring perkembangan transaksi saham Bayan Resources. Pada 16 September 2026, Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low, menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat dengan PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang terkait dengan pengusaha Haji Isam. Transaksi tersebut mencakup 10.000.000.500 saham BYAN, setara sekitar 30% saham Bayan Resources.
Perkembangan tersebut turut mendapat perhatian dari pasar modal. Pada perdagangan 18 September 2026, saham BYAN dilaporkan melonjak 19,96% ke level Rp13.825 per saham dan menyentuh batas auto rejection atas (ARA).
Pergerakan saham BYAN menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi estimasi kekayaan Low Tuck Kwong. Sebab, daftar Real-Time Billionaires Forbes memperbarui nilai kekayaan berdasarkan perubahan nilai aset dan kepemilikan saham yang dimiliki para miliarder.
Dengan demikian, angka Rp337 triliun merupakan estimasi nilai kekayaan pada waktu pengukuran, bukan jumlah uang tunai yang dimiliki secara langsung. Nilai tersebut dapat berubah mengikuti pergerakan harga saham dan perubahan nilai aset lainnya.












