kencananusantara.com/, JOMBANG – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026–2031. Penetapan tersebut menjadi salah satu keputusan penting dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU yang digelar di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Kepercayaan terhadap KH Miftachul Akhyar menegaskan kembali peran beliau sebagai salah satu ulama senior NU yang dinilai memiliki kapasitas keilmuan, keteladanan, serta pengalaman panjang dalam mengawal perjalanan organisasi. Sebagai Rais Aam PBNU, beliau akan menjalankan amanah dalam memimpin jajaran Syuriyah PBNU, memberikan pandangan keagamaan, serta menjaga arah perjuangan NU sesuai nilai Islam Ahlussunnah wal Jamaah.
KH Miftachul Akhyar sebelumnya juga telah mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU periode 2021–2026 melalui mekanisme musyawarah Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-34 NU di Lampung. Mekanisme AHWA merupakan tradisi NU dalam menentukan Rais Aam melalui musyawarah para ulama yang dipilih oleh para muktamirin.
Sosok KH Miftachul Akhyar dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam organisasi Nahdlatul Ulama. Beliau pernah dipercaya sebagai Rais Syuriyah PCNU Kota Surabaya, Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, Wakil Rais Aam PBNU, hingga akhirnya memimpin jajaran Syuriyah PBNU sebagai Rais Aam.
Lahir dari lingkungan pesantren, KH Miftachul Akhyar menempuh pendidikan keislaman di sejumlah pesantren ternama, di antaranya Pondok Pesantren Tambakberas Jombang, Sidogiri Pasuruan, serta sejumlah pesantren lainnya. Latar belakang pendidikan pesantren tersebut menjadi fondasi kuat dalam perjalanan beliau sebagai ulama yang aktif menjaga tradisi keilmuan, dakwah, dan pengabdian kepada umat.
Dengan amanah baru sebagai Rais Aam PBNU masa khidmah 2026–2031, KH Miftachul Akhyar diharapkan mampu membawa NU semakin kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman, memperkuat persatuan warga Nahdliyin, serta terus berkontribusi dalam membangun kehidupan keagamaan dan kebangsaan.
Muktamar ke-35 NU menjadi momentum penting bagi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut dalam menentukan arah kepemimpinan dan gerakan lima tahun ke depan. Kepemimpinan KH Miftachul Akhyar diharapkan menjadi penguat nilai keulamaan, moderasi beragama, serta semangat khidmah NU untuk umat, bangsa, dan negara.












