Kencananusantara.com, JAKARTA – Istilah “politisi salmon” kembali menjadi perhatian setelah PinterPolitik menerbitkan artikel berjudul “Parrhesia, Sulitnya Politisi Salmon” pada 19 September 2026. Dalam tulisan tersebut, istilah “salmon” digunakan sebagai metafora untuk menggambarkan figur yang membawa agenda perubahan dan menghadapi arus kepentingan maupun struktur kekuasaan yang telah terbentuk.
Salah satu figur yang dibahas adalah Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). PinterPolitik mengaitkan perjalanan Ahok dengan konsep parrhesia, yaitu gagasan mengenai keberanian menyampaikan kebenaran secara terbuka di hadapan kekuasaan, yang dalam artikel tersebut dikaitkan dengan pemikiran Michel Foucault.
Metafora “ikan salmon” sendiri telah digunakan dalam narasi mengenai perjalanan politik Ahok sejak 2012. Dalam tulisan yang dipublikasikan Ahok.org, Ahok digambarkan sebagai sosok yang memilih “melawan arus” ketika memasuki dunia politik. Tulisan tersebut juga memuat pandangan Ahok mengenai pilihan untuk menghadapi budaya dan kebiasaan yang menurutnya bermasalah dalam pemerintahan.
Dalam perkembangan terbaru, PinterPolitik memperluas metafora tersebut dengan membandingkan pengalaman Ahok dengan sejumlah figur lain, termasuk Susi Pudjiastuti dan Purbaya Yudhi Sadewa. Menurut analisis PinterPolitik, terdapat pola yang menarik untuk diperhatikan mengenai figur yang membawa agenda perubahan ketika berhadapan dengan struktur dan kepentingan yang telah lebih dahulu terbentuk.
Namun, istilah “politisi salmon” bukanlah kategori resmi dalam ilmu politik, melainkan metafora yang digunakan dalam analisis media. Karena itu, istilah tersebut lebih tepat dipahami sebagai cara PinterPolitik membaca karakter dan perjalanan sejumlah figur politik maupun teknokrat.
Perjalanan Ahok sendiri mencakup sejumlah fase politik, mulai dari kiprahnya di Belitung Timur, menjadi anggota DPR RI, hingga menjabat sebagai Wakil Gubernur dan kemudian Gubernur DKI Jakarta. Narasi mengenai dirinya sebagai figur yang “melawan arus” bahkan telah muncul dalam tulisan tentang perjalanan politiknya lebih dari satu dekade lalu.
Fenomena tersebut membuka pembahasan yang lebih luas mengenai hubungan antara figur pembawa perubahan, birokrasi, kepentingan politik, dan struktur kekuasaan. Perdebatan utamanya bukan sekadar mengenai siapa yang dapat disebut sebagai “salmon”, tetapi bagaimana agenda perubahan dapat berinteraksi dengan sistem yang telah memiliki aturan, kepentingan, dan aktor-aktor yang beragam.
Dengan demikian, metafora “ikan salmon” dapat menjadi pintu masuk untuk melihat dinamika politik dari perspektif yang lebih luas: ketika seseorang berusaha membawa perubahan, seberapa jauh perubahan tersebut dapat berjalan di tengah arus politik dan institusi yang sudah terbentuk?












